Headlines News :
Home » , » Mengapa Harus Kembali ke Dinar Dirham?

Mengapa Harus Kembali ke Dinar Dirham?

Written By Admin on Selasa, 20 Maret 2012 | 23.57


“ Uang kertas yang dipuja-puja kebanyakan orang saat ini, ternyata tidak memiliki nilai sebanding dengan angka yang tertera di atas lembaran kertas itu. Itu lah sebabnya mengapa dunia mengalami krisis moneter berkepanjangan. Maka, sudah saatnya kembali ke nilai mata uang sesungguhnya.”

“ Jauh sebelum Islam datang, semua orang memakai din ar dirham sebagai alat tukar,” ungkap Abdarrahman Rahadi, Wakil direktur Wakala Induk Nusantara (WIN).  Uang kertas merupakan evolusi dari kwitansi dimana dahulu kala banyak orang yang menitipkan koin emasnya di tempat penitipan emas dan diganti dengan sebuah kwitansi. “ kwitansi halal sebagai bukti, namun tidak halal menjadi alat tukar,” jelasnya.


Rahadi menceritakan, sampai tahun 1971 pencetakan mata uang kertas masih di back up oleh dinar (emas) sesuai dengan perjanjian Bretton Wood yang disepakati pada tahun 1944. Namun, di tahun yang sama presiden Amerika Serikat,Nixon, membatalkan perjanjian tersebut.

Sejak batalnya perjanjian tersebut, mata uang kertas dicetak tanpa back up emas. Sehingga mata uang yang berlaku di seluruh dunia bersifat  fiat dan disebut dengan istilah managed money standard. Hingga kini yang berlaku bahkan bukan uang kertas lagi, tapi angka, dengan menggunakan kartu debit dan kartu kredit. “ kalau sekarang kita ramai-ramai ke bank, pasti akan terjadi rush, karena uang sesungguhnya tidak ada di bank,”ujar Rahadi.

Uang harus berupa barang, lanjut dia, tapi tidak semua barang bisa jadi uang, hanya yang bernilai dan bisa ditimbang. “ Selama ini kita telah dibodohi oleh uang kertas, padahal biaya mencetak uang kertas tidak lebih dari 500 rupiah ” tandasnya.

Hal senada dikatakan Luthfi Hamidi,MA, dalam bukunya Gold Dinar,  penggunaan uang kertas sebagai alat transaksi moneter Internasional itu telah membuka ruang bagi munculnya penjajahan baru dan salah satu biang ketidakadilan moneter di dunia.
Melalui mata uang kertas, sambungnya, sebuah negara dapat menjajah, menguasai, bahkan melucuti kekayaan negara lain. Negara yang memiliki nilai mata uang kertas lebih kuat menekan negara lain yang mata uang kertasnya lebih lemah. “ contohnya dollar yang mendunia,” Kata Luthfi.
Lalu, bagaimana caranya mengembalikan dinar dirham yang hilang ? jawabannya Taqwa, sambut Rahadi. Dan pertama kali yang harus dilakukan adalah meninggalkan riba. “ itu artinya kita harus meninggalkan uang kertas, karena setiap lembarannya mengandung riba,” ucapnya.
Dan yang lebih penting dari dinar dirham bukan karena dia emas, anti inflasi dan barang yang bernilai. Tetapi, tanpa adanya dinar dirham tidak ada zakat dan tidak ada Islam. Pasalnya, zakat hanya boleh diukur dengan dinar dirham atau emas.
 Cara yang paling tepat menjadikan dinar dirham sebagai alat transaksi, kata Rahadi, sadarkan diri sendiri menggunakan dinar dirham dari sekarang. “ Jika belanja di pasar bayar pakai dirham, sebaliknya jika berdagang minta bayarannya gunakan dinar atau dirham,” imbuhnya.
Sementara itu, Agustianto Mingka, Presiden Direktur Iqtishad Consulting, manyampaikan lewat  tulisannya kembali ke dinar,  Berdasarkan kajian ilmiah dan fakta empiris, dapat disimpulkan bahwa mata uang dinar adalah mata uang  terbaik.
Dengan kemampuannya  menjaga nilainya sendiri maka Dinar Emas  mempunyai keunggulan sebagai alat tukar terbaik yang dapat meredam terjadinya spekulasi, manipulasi dan menekan inflasi secara signifikan. “ Sehingga dapat dijadikan sebagai instrumen stabilitas moneter yang ampuh,” paparnya.
Rahadi  mengajak seluruh umat manusia agar kembali transaksi menggunakan mata uang sesungguhnya.  Ia mengutip sebuah hadis, akan tiba zaman dimana  semua mata uang tidak berlaku kecuali dinar dan dirham. “ Dinar dan dirham bukti cinta Allah dan kasih sayang Nabi,” ujarnya. Ryan Febrianti
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

'Quote'

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"
- Pramoedya Ananta Toer-

" Pensil yang tumpul lebih baik dari ingatan yang tajam"
- Kaelany HD -

" Wa Laa Tamutunna Illa wa antum Kaatibuun "
- Prof.Ali Yaqub -




 
Support : Ekonomi Islam | Yans Doank | Murabahah Center
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ryan's Blog - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Yans Doank